Perjalanan Menuntut Ilmu
Kisah ini di mulai dari ke inginan beliau ingin mondok , yang pada saat itu ketemu dengan bapak polisi yang sedang patroli, oleh polisi tersebut di bawa ke asrama polisi di daerah Serang. Pada pagi harinya beliau di antarkan ke pondok Abuya Mama Armin Cibuntu Pandeglang Banten bersama temannya Herman.kemudian di pasrahkan kepada Abuya Mama’ Armin Yang mana beliau berusia 12 tahun.
Kisah ini di mulai dari ke inginan beliau ingin mondok , yang pada saat itu ketemu dengan bapak polisi yang sedang patroli, oleh polisi tersebut di bawa ke asrama polisi di daerah Serang. Pada pagi harinya beliau di antarkan ke pondok Abuya Mama Armin Cibuntu Pandeglang Banten bersama temannya Herman.kemudian di pasrahkan kepada Abuya Mama’ Armin Yang mana beliau berusia 12 tahun.
Pada awal pertemuan beliau dengan Abuya Mama Armin yang beliau sampaikan “saya ingin taubatan nashuha yang dijawab oleh Abuya Mama Armin,” kalau ingin taubatan nashuha, harus berani buka baju dan pasrah segalanya kepada Allah SWT.
Awal mulanya dikira mau ditaruh di pondok (kobong) ternyata tidak lama langsung dipanggil di kediaman Abuya Mama Armin, untuk diangkat menjadi abdi dalem, yang bertugas mengantar dan menjemput ketika Abuya ke kamar mandi atau ke masjid.
![]() |
Abuya mama ARMIN (KH.HASAN AMIN) cibuntu banten |
“Jangan sekali-kali kamu menginjak Banten atau daerah Cibuntu Pandeglang Banten sebelum kamu menyelamatkan umat dunia akhirat, Indonesia dan seluruh dunia, apabila kamu mendirikan pesantren jangan memungut biaya serupiah pun”.
Itulah kalimat yang selalu terngiang dalam benak beliau selama keluar
dari Pondok pesantren Abuya Mama Armin Cibuntu Pandeglang Banten yang
dilanjutkan untuk melakukan perjalanan musafir seluruh Indonesia dan
bahkan seluruh belahan dunia pernah disinggahi oleh beliau dan dari
perjalanan beliau atau musyafir akhirnya pada tahun 1999 beliau bermukim
di Jawa Timur, letaknya di Surabaya yang berkediaman di dekat makam
Sunan Ampel tepatnya yaitu Jln. Petukangan Gg. 8 no. 9 Ampel, kecamatan
Semampir kota Surabaya, Jawa Timur.
Di situlah beliau merintis pesantren yang diberi nama “ PON-PES UNIQ ”
yang semua santrinya tanpa dipungut biaya malah semua kebutuhan santri
mulai dari makan sampai kitab-kitab serta kebutuhan yang lainnya
ditanggung beliau, dan untuk mengatasi tempat karena jumlah santri yang
sangat banyak dikontraknya oleh beliau 3 rumah.
Semua apa yang beliau lakukan adalah bentuk dari pada apa yang beliau
terima dari guru beliau kyai hikmah Banten yang paling terkenal Almarhum
Ki Armin ( KH. MUHAMMAD HASAN AMIN ) Dari Cibuntu dekat Pandeglang
Banten ( wafat 1988). Beliau adalah kemenakan Kyai Asnawi Caringin.
Beliau sendiri adalah seorang guru thoriqoh, yang membai’at beberapa
pengunjungnya menjadi pengikut Thoriqoh Qodiriyah. Dengan mengambil
jarak dari guru thoriqoh yang lain di Banten dia mengaku berafiliasi
dengan beberapa guru di Makkah dan Baghdad, tempat-tempat yang sering
beliau kunjungi, bersama dengan pamannya sendiri. Guru-guru Ki Armin
adalah: Umar bin Hamdan dan Ali Nahari di Makkah ( ulama terkenal yang
secara kebetulan tidak di sebut sebagi guru thoriqoh Qodiriyah oleh
sumber yang lain ) dan di Baghdad seorang yang bernama Abdul Al-karim
dan Al-baqi Al-baghdadi. Beliau memimpin sebuah pesantren kecil dan
bergaya lama dengan hanya 30-40 santri yang berasal dari berbagai daerah
di Jawa, yang tampaknya sebagian besar tertarik kepada keahlihan Ki
Armin, ilmu hikmah, di samping itu juga mempelajari ilmu fiqih.
Alhamdulillah sampai pada tahun 2013 ini beliau membuka beberapa cabang pesantren di wilayah Jawa Timur, Sidoarjo, Malang, dan di wilayah lain di Bandung, Lampung dan masih banyak lagi di daerah- daerah lain ( luar pulau ).
Demikian sejarah beliau KH. Muhammad Abdul Ghufron Al-banteni selaku pengasuh Pondok Pesantren “ UNIQ “Jln. Dulamin Rt 01/Rw 01 Desa Pamotan Kec. Dampit Kab. Malang (65181) Jawa Timur. Indonesia
Sumber: http://yppuniq.blogspot.com/, http://ppal-itqon.blogspot.com/2013/02/haul-akbar-di-pp-uniq-malang-jawa-timur.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar